OBSERVASI
SI CANTIK YANG KIDAL
SI CANTIK YANG KIDAL
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Setiap anak adalah unik, maka dari itu kita tidak boleh menyamakan antara satu anak dengan anak yang lainnya, cara pengasuhan dan cara memberikan stimulasi kecerdasan kepada satu anak dengan anak yang lainnya pun harus dibedakan, meski lahir dari satu rahim seorang ibu, dengan pengasuhan yang sama bahkan di tempat yang sama pula. Ada yang cenderung cepat bahkan ada yang sangat lambat, ada yang bisa menerima jika kita stimulasikan dengan cara yang A namun ada yang tidak dapat di stimulasi dengan cara yang A tadi, begitulah kecerdesan anak.
Secara umum, bakat ( aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Chaplin, 1972 ; Raber, 1988 ). Dengan demikian, sebetulnya setiap orang / setiap anak pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing – masing. Jadi, secara global bakat itu mirip dengan intelegensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga sebagai talented child, yakni anak berbakat.
Dalam perkembangan selanjutnya, bakat kemudian diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.
B. OBSERVASI (PELAKSANAAN OBSERVASI)
Observasi adalah salah metode pembelajaran yang berarti metode atau cara – cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung.
Melalui observasi, deskripsi objektif dari individu – individu dalam hubungannya yang aktual satu sama lain dan hubungan mereka dengan lingkungannya dapat diperoleh. Dengan mencatat tingkah laku ekspresi mereka yang timbul secara wajar, tanpa di buat – buat, tekhnik observasi menjadi proses pengukuran (evaluasi) itu tanpa merusak atau mengganggu kegiatan – kegiatan normal dari individu atau kelompok yang di amati.
a. Indentitas Individu
1. Nama : Siti Rohma
2. Usia : 5, 10 bulan
3. Kelompok / kelas : TK B / As – Sabiqunal Awwalun
4. Nama orang tua : Sarnen
5. Alamat : Kp. Jempling Rt. 03 / 04 Desa Nambo Ilir Kecamatan
Kibin Serang – Banten 42186
6. Kelahiran : Normal
Oma adalah nama kecil atau panggilan yang biasa di gunakan oleh teman – teman Siti Rohma di sekolah, dan di rumahnya. Saat – saat menjelang kelahiran Oma, dokter memprediksikan bahkan menyuruh ibu Oma untuk melakukan sesar di karenakan si cabang bayi malas untuk keluar padahal hari yang di perkirakan oleh dokter sudah hampir lewat 1 minggu, tapi ibu Titin ( Amroh ) orangtua Oma tidak menginginkan hal ini terjadi, toh masih ada waktu untuk berusaha, dengan berdoa dan berusaha akhirnya proses persalinan itu berjalan dengan normal dan lancar, meski agak di paksakan Oma kecil lahir dengan selamat.
Sesaat setelah Oma lahir, bentuk kepala Oma lonjong ke atas dan Alhamdulillah ini berjalan hanya sebentar, sampai sekarangpun bentuk kepala Oma berbentuk bulat lonjong ke atas namun tidak terlalu berlebihan seperti awal kelahirannya dulu.
Badannya yang montok, kulit yang bersih, rambut ikal memang kelihatan sempurna, namun Oma tidak lepas menggunakan tangan kirinya ketika melakukan aktifitas dalam bermain maupun dalam belajar, ia banyak melibatkan tangan kirinya untuk kegiatan motorik halus bahkan motorik kasarnya. Meski kita mengetahui bahwa anak yang kidal adalah bukan anak yang abnormal, namun pada kenyataannya di sekolah Oma sedikit kesulitan mengikuti pelajaran seperti menulis huruf, menggunting dan yang lainnya.
b. Pelaksanaan Observasi
Hari / Tanggal : 29 – 30 Nopember 2010
Alamat : Kp. Jempling Rt. 03 / 04 Desa Nambo Ilir Kecamatan
Kibin Serang – Banten 42186
a) Observasi di Sekolah
Di sekolah Oma menjadi anak yang pendiam, bahkan ia terkadang menjadi bahan intimidasi dari teman perempuannya yang usil. Jika ia tidak di ajak untuk berkumpul bareng teman – temannya ia pun nggan untuk bergabung, tampaknya Oma akan bergabung bersama teman – temannya jika gurunya atau beberapa teman telah mengajaknya.
Tidak itu saja, jika ada teman yang usil seperti mencoret buku atau merusak mainannya, Oma akan mengambil sikap berdiam diri atau jika ada gurunya di sana ia hanya berkata dengan nada pelan “ bu guru, buku Oma di coret ni sama Fatmah “, namun hasrat untuk membalas atau mempertahankan miliknya itu sungguh tak nampak pada diri Oma. Dan sepertinya Oma pandai sekali melihat situasi, ia mencari waktu yang tepat untuk membalas perbuatan temannya itu, apapun yang terjadi tak nampak di wajah Oma sebuah kemurungan, ejekan teman – temannya pun tak pernah ia hiraukan.
Jika saat itu temannya mengajak Oma untuk bergabung maka ia akan bergaul dengan teman – temannya dengan baik, ia akan menjaga persahabatan itu. Oma adalah anak yang baik dan mandiri, meski Oma tidak mampu mengerjakan sesuatu ia tak pernah menyerah, ia akan teruskan tugasnya itu sampai selesai meski hasilnya tak pernah sempurna, tapi dengan dorongan dan pujian dari gurunya membuat Oma selalu menghargai hasil karyanya, dan ia akan lebih tersanjung dan bertambah semangat jika hasil karyanya hari itu mendapat pujian luar biasa dari gurunya.
Ketika belajar menulis, mewarnai bahkan kegiatan motorik halus yang lainnya pun ia sangat lambat, Oma terlihat sangat berhati – hati, jika ia tidak sanggup lagi atau merasakan kesulitan yang amat, barulah ia berteriak memanggil gurunya untuk meminta bantuan, sekali lagi ia sabar dan tak pernah menghiraukan kata – kata yang keluar dari mulut temannya yang usil.
Untuk mengenal huruf abjad, hijaiyah bahkan angka, ia terkesan sulit mengingatnya, Oma hanya bisa ingat pada saat itu saja, tetapi ketika di tanya ke esokan harinya ia akan lupa lagi.
Dalam motorik kasar, Oma tidak berani jika harus berjalan di atas papan titian, lari sebentar saja sudah nampak kelelahan. Sepertinya Oma takut melakukan gerakan yang menguji adrenalinnya, tapi semangat Oma sungguh luar biasa, ia terus mencoba namun harus dengan bantuan gurunya.
Namun di luar itu semua, prestasi akademik yang ada pada diri Oma yang lebih menonjol atau lebih kelihatan adalah prestasinya dalam pelajaran yang sifatnya menghafal seperti doa – doa harian, surat – surat pendek dan hadist – hadist pendek.
b) Observasi di rumah
Orangtua Oma di sibukkan dengan usaha buka warung kelontongan di rumahnya, buka jam 6 sampai jam 10 malam. Dari aktifitas orangtuanya inilah membuat Oma terkadang harus tidur larut malam setiap harinya. Bermain di malam hari itu sudah tak ada larangan dari orangtuanya “ nggak apa – apa yang penting tidak jauh mainnya, orang di suruh belajar sulit banget, bu “ itulah ungkapan ibunya Oma ketika saya beri pertanyaan sekitar kegiatan malam harinya Oma.
Asupan gizi sangat tercukupi, kebersihan sangat di perhatikan sekali oleh orangtuanya. Makanan 4 sehat 5 sempurna itu terlihat nampak di setiap menu makan Oma, baju bersih yang mahal serta tubuh yang wangi sangat tercium di hidung orang – orang di sekelilingnya. Menu makan Oma juga cukup besar, pantaslah kalau sampai sekarang tubuhnya subur.
Oma sulit melatih kelenturan tangannya mengkoordinasikan tangan kanan dan tangan kirinya, bagaimana tidak, setiap di rumah Oma jarang sekali di bimbing untuk belajar, dan saat Oma melakukan kegiatan dengan menggunakan tangan kiri, saya pun tergelitik untuk bertanya. “ Iya, dari kecil Oma melakukan aktifitas selalu dengan tangan kiri, susah bu’ untuk di beri pengarahan lagi “ , ujar ibunya Oma.
Oma ramah sekali, ia senang sekali menyapa orang – orang di sekelilingnya, bercanda dengan orang – orang yang lebih besar darinya pun ia lakukan, ia sangat menyayangi anak yang lebih kecil dari dirinya. Bahkan ketika di rumah ia kelihatan energik sekali setiap melakukan kegiatan.
c) Ketika bersama teman
Layaknya anak – anak yang lain, Oma senang sekali bermain bersama teman – temannya, namun teman yang di ajaknya bermain ini adalah anak yang lebih besar darinya atau yang lebih kecil dari dirinya, jadi, jarang sekali ia terlihat bermain bersama teman – teman sebayanya.
Ramah, senang menyapa orang lain pun di lakukan oleh Oma ketika berada di lingkungan tempat ia bermain.
Ketika di tanya kepada salah satu anak yang berada tidak jauh dari rumah Oma, ”malas ah main sama Oma ” ungkap Dimas. Atas penjelasan orangtua Dimas, akhirnya saya menemukan jawabannya, mengapa anak sebaya dengan Oma malas untuk bermain dengan Oma, ternyata campur tangan orangtua Oma membuat anak sebaya Oma malas untuk gabung main bersama. Ibunya Oma sering memarahin anak – anak, jika Oma menangis karena sesuatu hal, bahkan tak tanggung – tanggung ibunya Oma terkadang langsung menemui orangtua si anak, jika melihat anaknya ( Oma ) menangis.
Kemarahan ibunya Oma membuat anak – anak yang lain trauma untuk bermain bersama Oma lagi. Hal inilah yang memicu orangtua lainnya, untuk melarang anak – anaknya bermain bersama Oma. Tapi, jika di lihat dari Oma nya sendiri, Oma ingin sekali bermain bersama anak – anak sebayanya itu, kalaupun banyak anak – anak sebayanya berkumpul seperti di sekolah ia tidak mau terlibat secara langsung jika saat itu tak ada satu temannya yang mengajaknya bermain bersama, Oma hanya berani mendekat dan melihat saja, tapi untuk ikut langsung bermain mungkin tidak.
C. PENUTUP
Kecerdasan Interpersonal menurut Howard Gardner adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Peka pada ekpresi wajah, suara dan gerakan tubuh orang lain dan ia mampu memberikan respon secara efektif dalam berkomunikasi. Kecerdasan ini juga mampu untuk masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan umumnya dapat memimpin kelompok.
Sedangkan pengertian kecerdasan Intrapersonal adalah kemampuan untuk memahami lingkungan sekitar dari dalam dirinya sendiri, dan memiliki motivsi intrinsik ( motivasi dari dalam dirinya sendiri ), seperti sadar diri akan kekuatan dan kelemahan pada dirinya.
Pada dasarnya semua makhluk ciptaan Allah memiliki beragam kecerdasan, dan ini merupakan anugrah besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lainnya.
Pada anak kidal, perkembangan otak kanannya lebih baik. Demikian juga sebaliknya, anak yang memiliki kecenderungan tangan kanan, berarti otak kirinya yang memiliki perkembangan lebih baik. Kidal atau tidaknya anak biasanya mulai terlihat pada usia 2-3 tahun dan akan menjadi permanen pada usia 6 tahun. Oleh karena itu jika kita ingin mengubah kebiasaan anak kidal ini, sebaiknya lakukan sebelum dia berusia 6 tahun, dan lakukan secara bertahap dan jangan memaksa.
Anak yang kidal seperti Siti Rohma ( Oma ), ternyata memiliki kecerdasan / terlatih dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Kalaupun Oma dengan kecerdasan yang lainnya belum nampak, ini hanya perlu stimulasi lagi karena semua kecerdasan butuh di beri stimulasi / rangsangan sesuai tahap perkembangan anak tersebut, dan butuh waktu karena semua perubahan ke arah yang baik itu butuh proses. Orangtua Oma seharusnya lebih memperhatikan perkembangan anaknya, karena semua anak itu cerdas maka dari itu harus lebih giat lagi untuk memberikan stimulasi.
Yang sangat berperan dalam merangsang / menstimulasi kecerdasan anak adalah, orangtuanya ( di rumah ), Guru dalam lingkungan pendidikannya ( sekolah), dan lingkungan tempat ia bergaul dan berorganisasi, dan pada waktunya nanti kita akan menemui dan mendapatkan anak yang cerdas dalam Intelegensi ( IQ), cerdas dalam Emosi (EQ), serta cerdas dalam spiritualnya ( EQ ), dan semoga dapat berjalan seimbang dan searah.